Selasa, 23 April 2013

laporan lengkap populasi,komunitas & ekosistem



LAPORAN PARAKTIKUM
BIOLOGI DASAR

PERCOBAAN V
POPULASI, KOMUNITAS, DAN EKOSISTEM

NAMA                 : TRI ASTUTI
NIM                      : I11112048
FAK/GOL           : PETERNAKAN/B
KOLOMPOK      : I
ASISTEN             : ST. RAHBIAH


http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjoDZLMN8WJ0U4JNA8P4iCSlCv9iL51O61GDDRQ9J42sWyqHII


LABORATORIUM BIOLOGI DASAR
UNIT PELAKSANA TEKNIS-MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti :kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya (Winatasasmita, 1993).
Ilmu ekologi pada dasarnya menjelaskan hubungan antara organisme -tumbuhan maupun hewan- dengan lingkungannya. Sifat setiap benda hidup dimengerti dari segi hubungannya. Bukan hanya dengan alam secara fisik -termasuk tanah, air dan iklim- tetapi juga dengan benda hidup lain dalam suatu pola saling ketergantungan yang dinamakan ekosistem. Contoh ekosistem dari Sumatera adalah hutan tropis dataran rendah, hutan mangrov, sungai, lahan basah gambut, dll. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya (Widjoyo, 1974).
Struktur ekosistem terdiri  dari  beberapa  indikator  yang menunjukan keadaan dari system ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Beberapa penyusun
struktur ekosistem antara lain adalah densitas (kerapatan), biomas, materi, energi, dan faktor-faktor  fisik-kimia  lain  yang  mencirikan  keadaan  system  tersebut (Odum,  1983).
Fungsi ekosistem menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam system. Berdasarkan  struktur  dan  fungsi  ekosistem,  maka  seseorang  yang  belajar  ekologi harus  didukung  oleh  pengetahuan  yang  komprehensip  berbagai  ilmu  pengetahuan  yang relevan dengan kehidupan. Ekologi tidak hanya mempelajari ekosistem tetapi juga otomatis mempelajari organisme pada  tingkatan organisasi yang  lebih kecil seperti  individu, populasi dan komunitas. (Karmana, 2007)
I.2. Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah   :
1.        Dapat menggunakan model untuk meneliti bagaimana populasi dapat tumbuh
2.        Mempelajari suatu komunitas dan mengumpulkan data sebanyak mungkin selama waktu dan kesempatan yang memungkinkan. Kemudian mampu memeriksa hubungan antara masing masing spesies agar dapat mengira-ngira urutan yang paling penting dan untuk mengetahui struktur komunitas itu.
I.3. Waktu dan Tempat Percobaan
Pengamatan ini dilakukan pada hari Selasa, Tanggal 16 Oktober 2012, Pukul 11.00-14.00 di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Individu  berasal  dari bahasa  latin yaitu  in  (tidak)  dan dividuus (dapat dibagi)  jadi individu merupakan  bagian  organisasi    kehidupan  yang  tidak  dapat  dibagi  lagi. Masing-masing  unit yang disebut  individu  tersebut dapat melakukan proses hidup yang masing-masing  terpisah. Setiap  individu seperti pohon pisang dalam rumpunnya akan dapat hidup apabila dipisahkan dari  rumpunnya  tersebut.  Individu  dalam  ekologi memiliki makna  yang  sangat  penting,  karena  dari  individu  dapat  dikumpulkan  bermacam-macam  data  untuk  mempelajari  tentang  kehidupan  dalam  hubungannya  dengan lingkungannya (Zoer´aini, 2003)
Dalam ekologi, populasi diartikan sekelompok idividu sejenis yang menempati ruang dan  waktu  tertentu. Populasi adalah kelompok  kolektif  organisme  dari  jenis  yang  sama  yang  menempati  ruang  atau  tempat tertentu dan memiliki berbagai ciri atau sifat yang unik dari kelompok dan bukan merupakan sifat milik individu di dalam kelompok tersebut. Populsi memiliki sejarah hidup, tumbuh dan berkembang  seperti  apa  yang  dimiliki  oleh  individu.  Populasi  memiliki  organisasi  dan struktur yang pasti dan jelas (Zoer´aini, 2003).
Berdasarkan  sifatnya  yang  unik  dan  berbeda  dengan  sifat masing-masing  individu populasi memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut:

1.        Densitas atau kerapatan atau kepadatan
Densitas  populasi  menunjukan  besarnya  populasi  dalam  satuan  ruang.  Umumnya dinyatakan sebagai  jumlah  individu atau biomas persatuan  luas atau volume. Densitas  dalam  studi  atau  kajian  ekologi memiliki  fungsi  yang  sangat  besar,  karena pengaruh  populasi  terhadap  komunitas  dan  ekosistem tidak  hanya  jenis  organismenya  saja tetapi juga  jumlahnya atau densitasnya (Zoer´aini, 2003).
2.        Angka kelahiran (natalitas)
Natalitas  adalah  kemampuan  inheren  populasi  untuk  bertambah.  Di  alam  angka kelahiran  dapat  bervariasi  sesuai  dengan  keadaan  lingkungan.  Angka  kelahiran  umumnya dinyatakan dalam bentuk angka atau laju yang dihitung berdasarkan jumlah individu baru persatuan waktu per satuan populasi (Zoer´aini, 2003).
3.        Angka kematian (mortalitas)
Menyatakan  jumlah  individu-individu  dalam  populasi  yang mati  per  satuan  waktu. Dalam kondisi yang ideal maka angka kematian berada pada titik minimum. Mortalitas pasti terjadi  pada  makhluk  hidup  meskipun  kondisi  lingkungan  sangat  ideal,  kematian  terjadi karena umur tua (Zoer´aini, 2003).
4.        Genetik
Sifat-sifat genetik secara langsung berhubungan dengan keberadaan suatu populasi di dalam lingkungan. Termasuk didalamnya antara lain adalah keserasian reproduksi, distribusi, adaptasi  dan  ketahanan  hidup.  Faktor  genetik  dalam  mempelajari  ekologi  memiliki  peran penting karena adanya variasi (biodiversitas) genetik akan sangat menentukan eksistensi suatu populasi dalam lingkungan (Zoer´aini, 2003).
5.        Struktur Umur
Secara  ekologis  populasi  umumnya memiliki  tiga  bentuk  sebaran  umur  yaitu muda (prareproduktif), reproduktif dan umur tua (postreproduktif). Lamanya periode umur ekologis jika dibandingkan dengan panjangnya umur sangat beragam tergantung pada jenis organism dan kondisi  lingkungan yang melingkupinya. Beberapa  jenis  tumbuhan da hewan memiliki umur  prareproduktif  yang  lebih  panjang  dan  beberapa  tidak memiliki  umur  postproduktif. Populasi  organisme  yang  sama  tetapi  hidup  dalam  kondisi  lingkungan  yang  berbeda  juga dapat memiliki periode umur ekologis yang berbeda. Populasi hewan  liar biasanya memiliki umur reproduktif lebih lama dibandingkan dengan yang dipelihara, contohnya beberapa jenis burung. Biasanya populasi yang  sedang berkembang  cepat  akan didominasi oleh    individu-individu muda, populasi yang stationer memiliki umur yang  lebih merata dan populasi yang menurun akan didominasi oleh sebagian besar individu-individu yang berumur tua (Zoer´aini, 2003).
6.        Potensi biotik
Potensi  biotik  dapat  diartikan  sebagai  kemampuan  bawaan  yang  dimiliki  organism untuk  tumbuh  atau  bereproduksi  (reproductive  potential).  Potensi  biotic    menggambarkan kemampuan suatu populasi menambah jumlah anggautanya apabila rasio umur sudah mantap dan  lingkungan dalam kondisi optimal. Pada kondisi  lingkungan  tidak atau kurang optimum maka  tingkat  pertumbuhan  populasi    menurun.  Perbedaan  antara  potensi  biotik  dengan kemampuan  suatu  poipulasi  menambah  anggautanya  dalam  keadaan  yang  dapat  diamati dikenal sebagai daya tahan lingkungan. (Zoer´aini, 2003).
7.        Bentuk pertumbuhan
Pertambahan  ukuran  populasi  memiliki  pola  tertentu  yang  dikenal  sebagai  bentuk pertumbuhan  populasi  (population growth  form).  Secara  teoritik  pertumbuhan  populasi terjadi secara eksponensial. Dari  bentuk  kurva,  populasi  tumbuh  tidak  pernah  terhenti  dan  makin lama  makin  cepat. Pertumbuhan  eksponensial  dapat  terjadi  hanya  apabila  faktor  lingkungan  tak  terbatas,  jadi tidak ada faktor apapun yang membatasi pertumbuhan (Zoer´aini, 2003).
Distribusi  populasi  adalah  pergerakan  individu-individu  atau  alat  perkembang biakannya  (biji,  spora,  larva  dan  lainnya)  ke  dalam  atau  ke  luar  dari  suatu  populasi  atau daerah populasi. Ada tiga bentuk distribusi atau pergerakan populasi yaitu:
1.      Migrasi, yaitu pergerakan keluar batas-batas  tempat populasi dan datang kembali ke tempat populasi semula secara periodik
2.      Emigrasi,  yaitu  pergerakan  keluar  batas-batas  tempat  populasi  sehingga  populasi berkurang
3.      Imigrasi,  yaitu  pergerakan  ke  dalam  batas-batas  tempt  populasi sehingga  populasi bertambah (Prawirahartono, 1994)
Ekosistem yaitu antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi.interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivor, karnivor, omnivor) dan dekomposer/penguurai (mikroorganisme) (Pratiwi, 2000).
Ekosistem terdapat interaksi antara komponen abiotik dengan komponen biotik. Pada komponen biotik di bentuk oleh berbagai organisme yang berbeda jenisnya. (Rochman, 2005).
Beberapa organisme yang jenisnya sama akan membentuk populasi, beberapa populasi yang berbeda akan membentuk komunitas. Satu ekosistem akan berbeda dengan ekosistem lainnya. Perbedaan ini terjadi di dasarkan ciri-ciri komunitas yang menonjol (baik hewan maupun tumbuhan) karena setiap organisme membentuk komunitas memiliki karakteristik yang bermacam-macam, maka terbentuklah macam-macam ekosistem. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer (Maizer 2007).
 Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan (Maizer 2007).
Faktor-faktor abiotik merupakan bagian dari ekosistem selain komunitas spesies yang ada dalam suatu daerah tertentu Pada tingkat ekosistem akan berhubungan dengan aliran energi dan pendauran zat-zat kimia pada berbagai komponen biotik dan abiotik. Studi ekosistem banyak melibatkan ilmu lainnya, seperti genetika, evolusi, fisiologi, dan perilaku. Selain itu, kimia, fisika, geologi, meteorologi konservasi (Campbell, 2004).
Ekosistem adalah suatu komunitas organisme yang berinteraksi sesamanya dan dengan alam tak hidup disekitarnya. Ekosistem beragam dalam produktivitasnya, artinya dalam jumlah energi yang disimpan dalam benda hidup heterotrof menjamin energi yang diperolehnya dari autotrof. Energi dan bahan dari organisme lain memastikan suatu rantai makanan dan setiap mata rantainya merupakan tingkatan trofik (Kimball 2005).
Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan nonmaterial (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup (Kimball 2005).
Komponen yang mempengaruhi Ekosistem terdiri atas faktor abiotik dan faktor biotikFaktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup: tumbuhan, hewan, manusia, mikroorganisme. Tumbuhan berperan sebagai produsen sedangakn hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer. Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam. Ekosistem Berdasarkan fungsinya di dalam, ekosistem makhluk hidup dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer atau pengurai (Maizer, 2007).
·         Produsen
Tumbuhan hijau mampu memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan zat makanan melalui proses fotosintesis, sehingga disebut sebagai produsen. Organisme yang dapat membuat makanan sendiri disebut organisme autotrof. Gambaran reaksi kimia proses fotosintesis. Zat makanan yang terbentuk merupakan energi kimiawi yang tersimpan pada bagian daun, batang, akar atau buah. Hasil fotosintesis lainnya adalah berupa oksigen dilepas ke udara bebas dan digunakan.
·         Konsumen
Manusia dan hewan termasuk dalam golongan konsumen karena keduanya tidak dapat membuat makanan sendiri. Konsumen disebut juga organisme heterotrof, artinya organisme yang tergantung organisme lain untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan jenis makanannya, organisme yang mendapatkan makanan dari tumbuhan saja disebut herbivora, organisme yang hanya makan hewan disebut karnivora. Organisme yang mendapatkan makanan dari tumbuhan maupun hewan disebut omnivora.
·         Dekomposer atau Pengurai
Dekomposer atau pengurai dalam menguraikan zat organik yang terdapat pada makhluk hidup yang sudah mati menjadi zat yang lebih sederhana, seperti mineral atau zat organik lain. Makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai adalah bakteri dan jamur saprofit. Zat mineral atau zat hara hasil penguraian meresap ke dalam tanah yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubungan timbal balik yang harmonis antar komponen biotik dan abiotik (Maizer, 2007).
Setiap kegiatan memerlukan energi. Sumber energi untuk organisme adalah energi kimia yang terdapat di dalam makanan. Makhluk hidup tidak mampu menciptakan energi, melainkan hanya memindahkan dan memanfaatkannya untuk beraktivitas. perpindahan energi berlangsung dari matahari ke tumbuhan hijau melalui proses fotosintesis. Di sini energi cahaya diubah menjadi energi kimia. Sewaktu tumbuhan hijau dimakan herbivora, energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke dalam tubuh herbivora dan sebagian energi hilang berupa panas. Demikian juga sewaktu herbivora dimakan karnivora. Oleh karena itu, aliran energi pada rantai makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di dalam ekosistem hanya satu jalur, berupa aliran energi (Kimball, 2005).
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah tertentu pada suatu ekosistem. terdiri atas rantai makanan perumput,rantai makanan detritus. Rantai Makanan tidak hanya mencakup hewan-hewan seperti rusa, sapi tetapi juga herbivora kecil misalnya serangga (Kimball, 2005).
Semua rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik. Setiap organisme, misalnya sapi atau belalang yang memakan tumbuhan disebut herbivora atau konsumen primer. Karnivora seperti halnya katak yang memakan herbivora disebut konsumen sekunder. Karnivora sebagaimana ular, yang memakan konsumen sekunder dinamakan konsumen tersier, dan seterusnya. Setiap tingkatan konsumen dalam suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik. Sedangkan jaring-jaring makanan dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Pada rantai makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk tingkat tropik yang sema- kin tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan. Salah satu jenis piramida ekologi adalah piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat pada konsumen tingkat terakhir (Biological Science I, 1997).





BAB III
METODE  PERCOBAAN

III.1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah kalkulator.
III.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kertas grafik biasa berukuran A3 sebanyak dua lembar.
III.3. Cara kerja
a.      Model populasi
1.        Mempersiapkan model
Mengumpamakan disuatu pulau tahun 2011 dihuni oleh 10 burung gereja (5 pasang jantan dan betina).
Asumsi I         : setiap musim bertelur, setiap pasang burung gereja menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 ekor jantan dan 5 ekor betina.
Asumsi II        : Setiap tahun semua tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya.
Asumsi III      : Setiap tahun semua keturunan hidup sampai pada musim bertelur berikutnya. (dalam keadaan sebenarnya beberapa tetua akan hidup dan beberap keturunan akan mati. Asumsi I dan III akan memberikan keseimbangan. Sehingga akan mengurangi perbedaan antara model yang kita buat dengan keadaanyang sebenarnya)
Asumsi IV      : selama pengamatan tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut.
2.    Pertumbuhan populasi
Mengamati bagaimana populasi hipotik ini tumbuh. Lalu menghitung besarnya populasi setiap permulaan musim bertelur. Sesuai dengan asumsi I, pada tahu 2011 terdapat lima pasang. Setiap pasang menghasilkan keturunan sebanyak 10. Jadi jumlah seluruhnya 50 keturunan. Sesuai dengan asumsi II, ke-50 keturunan akan hidup semuanya hingga musim bertelur tahun 2012.sesuan dengan asumsi I , terdiri dari 25 jantan dan 25 betina (25 pasang), dan setiap pasang menghasilkan 10 keturunan.
Menghitung populasi burung gereja berdasarkan cara diatas pada tahun 2013, 2014 dan 2015. Setelah memiliki sejumlah angka, membuat gambaran lebih jelas tentang jalannya pertumbuhan dari suatu populasi dengan cara menempatkan angka-angka pada garis grafik.
Membuat grafik dimana tahun pada garis sumbu horizontal dan jumlah burung pada garis sumbu vertical.
3.        Mengamati grafik
·           Mengamati naik turunnya grafik jika dibaca dari kiri ke kanan ( dari tahun ke tahun melintasi gambar grafik tersebut)
·           Mencari tau apa arti naik turunnya grafik tersebut
·           Mengetahui bagaimana gambar grafik apabila perhitungan populasi dilanjutkan hingga waktu yang tak terhingga
·           Menggambarkan dengan kata-kata populasi hipotik dalam batas batas asumsi yang telah dibuat
4.        Melanjutkan perhitungan dengan asumsi yan berbeda
1)      Mengubah asumsi II sebagai berikut : setiap tahun dua perlima dari tetua (jantan dan betina jumlahnya sama) masih dapat mempunyai keturunan lagi untuk kedua kalinya, baru kemudian mati. Asimsi lain tidak diubah. Membandingkan hasil ini dengan asumsi yang asli dengan menggambar grafik pada kertas grafik
2)      Mengubah asumsi III sebagi berikut : setiap tahun dua perlima dari keturunan (jantan dan betina jumlahnya sama) mati sebelum musim bertelur. Asumsi yang lain tidak diubah. Kemudian membandingkan dengan model asli.
3)        Mengubah asumsi IV sebagai berikut        : setiap ahun 50 burung gereja baru (jantan dan betina jumlahnya sama) datang kepulau tersebut dari tempat lainnya. Tidak seekor burung pun yang meninggalkan pulau tersebut. Asumsi yang lain tidak diubah.
b.      Jaring-jaring makanan dan rantai makanan.
1.   Meneliti organisme yang ada pada lingkungan sekitar
2.   Membuat pola peralihan energy berupa proses makan dimakan yang terjadi
3.   Mencatat rantai makanan dan jaring-jaring makanan yang  terjadi.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil
a.      Model populasi
·      Model I
Tahun 2011
Asumsi I :               5 × 10             = 50 ekor ( 25 pasang )
                               50 + 10            = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II :             60 – 10            = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi III :                                    = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi IV :                                    = 50 ekor ( 25 pasang )
Tahun 2012
Asumsi I :               25 × 10            = 250 ekor ( 125 pasang )
                               250 + 10          = 300 ekor ( 150 pasang )
Asumsi II :             300 – 50          = 250 ekor ( 125 pasang )
Asumsi III :                                    = 250 ekor ( 125 pasang )
Asumsi IV :                                    = 250 ekor ( 125 pasang )
Tahun 2013
Asumsi I :               125 × 10         = 1250 ekor ( 625 pasang )
                               1250 + 250      = 1500 ekor ( 750 pasang )
Asumsi II :             1500 – 250      = 1250 ekor ( 625 pasang )
Asumsi III :                                    = 1250 ekor ( 625 pasang )
Asumsi IV :                                    = 1250 ekor ( 625 pasang )
Tahun 2014
Asumsi I :               625 × 10         = 6250 ekor ( 3125 pasang )
                               6250 + 1250    = 7500 ekor ( 3750 pasang )
Asumsi II :             7500 – 1250    = 6250 ekor ( 3125 pasang )
Asumsi III :                                    = 6250 ekor ( 3125 pasang )
Asumsi IV :                                    = 6250 ekor ( 3125 pasang )
Tahun 2015
Asumsi I :               3125 × 10       = 31250 ekor ( 15625 pasang )
                               31250 + 6250  = 37500 ekor ( 18750 pasang )
Asumsi II :             37500 – 6250  = 31250 ekor ( 15625 pasang )
Asumsi III :                                    = 31250 ekor ( 15625 pasang )
Asumsi IV :                                    = 31250 ekor ( 15625 pasang )
·      Model II
Tahun 2011
Asumsi I :               5 × 10             = 50 ekor ( 25 pasang )
                               50 + 10            = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II :             10                = 4 ekor ( 2 pasang )
                               60 – 6              = 54 ekor ( 27 pasang )
Asumsi III :                                    = 54 ekor ( 27 pasang )
Asumsi IV :                                    = 54 ekor ( 27 pasang )
Tahun 2012
Asumsi I :               27 × 10            = 270 ekor ( 135 pasang )
                               270 + 50          = 320 ekor ( 160 pasang )
Asumsi II :             50               = 20 ekor ( 10 pasang )
                               320 – 30          = 290 ekor (145 pasang )
Asumsi III :                                    = 290 ekor (145pasang )
Asumsi IV :                                    = 290 ekor (145 pasang )
Tahun 2013
Asumsi I :               145 × 10          = 1450 ekor (7 25 pasang )
                               1450 + 270      = 1720 ekor ( 860 pasang )
Asumsi II :             270                        = 108 ekor ( 54 pasang )
                               1720  – 162     = 1558 ekor (779 pasang )
Asumsi III :                                    = 1558 ekor (779 pasang )
Asumsi IV :                                    = 1558 ekor (779 pasang )
Tahun 2014
Asumsi I :               779 × 10          = 7790 ekor ( 3895 pasang )
                               7790 + 1450    = 9240 ekor ( 4674 pasang )
Asumsi II :             1450          = 580 ekor ( 290 pasang )
                               9240  – 870     = 8370 ekor (4185 pasang )
Asumsi III :                                    = 8370 ekor (4185 pasang )
Asumsi IV :                                    = 8370 ekor (4185 pasang )
Tahun 2015
Asumsi I :               4185 × 10        = 41850 ekor ( 20925 pasang )
                               1450 + 270      = 49640 ekor ( 24820 pasang )
Asumsi II :             7790          = 3116 ekor ( 1558 pasang )
                               49640 – 4674  = 44966 ekor ( 22483 pasang )
Asumsi III :                                    = 44966 ekor ( 22483 pasang )
Asumsi IV :                                    = 44966 ekor ( 22483 pasang )
·      Model III
Tahun 2011
Asumsi I :               5 × 10             = 50 ekor ( 25 pasang )
                               50 + 10            = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II :             60 – 10            = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi III :             . 50                = 20 ekor  mati ( 25 pasang mati )
                               50 – 20            = 30 ekor (15 pasang)
Asumsi IV :                                    = 30 ekor (15 pasang)
Tahun 2012
Asumsi I :               15 × 10           = 150 ekor ( 75 pasang )
                               150 + 30          = 180 ekor ( 90 pasang )
Asumsi II :             180 – 30          = 150 ekor ( 75 pasang )
Asumsi III :             . 150              = 60 ekor  mati ( 30 pasang mati )
                               150 – 60          = 90 ekor (45 pasang)
Asumsi IV :                                    = 90 ekor (45 pasang)
Tahun 2013
Asumsi I :               45 × 10            = 450 ekor ( 225 pasang )
                               450 + 90          = 540 ekor ( 270 pasang )
Asumsi II :             540 – 90          = 450 ekor ( 225 pasang )
Asumsi III :             . 450              = 180 ekor  mati ( 90 pasang mati )
                               450 – 180        = 270 ekor (135 pasang)
Asumsi IV :                                    = 270 ekor (135 pasang)
Tahun 2014
Asumsi I :               135 × 10          = 1350 ekor ( 675 pasang )
                               1350 + 270      = 1620 ekor ( 810 pasang )
Asumsi II :             1620 – 270      = 1350 ekor ( 675 pasang )
Asumsi III :             . 1350            = 540 ekor  mati ( 270 pasang mati )
                               1350 – 540      = 810 ekor (405 pasang)
Asumsi IV :                                    = 810 ekor (405 pasang)
Tahun 2015
Asumsi I :               405 × 10          = 4050 ekor ( 2025 pasang )
                               4050 + 810      = 4860 ekor ( 2430 pasang )
Asumsi II :             4860 – 810      = 4050 ekor ( 2025 pasang )
Asumsi III :             . 4050            = 1620 ekor  mati ( 810 pasang mati )
                               4050 – 1620    = 2430 ekor (1215 pasang)
Asumsi IV :                                    = 2430 ekor (1215 pasang)
·      Model IV
Tahun 2011
Asumsi I :               5 × 10             = 50 ekor ( 25 pasang )
                               50 + 10            = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II :             60 – 10            = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi III :                                    = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi IV :            50 + 50            = 100 ekor ( 50 pasang )
Tahun 2012
Asumsi I :               50 × 10            = 500 ekor ( 250 pasang )
                               500 + 100        = 600 ekor ( 300 pasang )
Asumsi II :             600 – 100        = 500 ekor ( 250 pasang )
Asumsi III :                                    = 500 ekor ( 250 pasang )
Asumsi IV :            500 + 50          = 550 ekor ( 275 pasang )
Tahun 2013
Asumsi I :               275 × 10          = 2750 ekor ( 1375 pasang )
                               2750 + 550      = 3300 ekor ( 1650 pasang )
Asumsi II :             3300 – 550      = 2750 ekor ( 1375 pasang )
Asumsi III :                                    = 2750 ekor ( 1375 pasang )
Asumsi IV :            2750 + 50        = 2800 ekor ( 1400 pasang )
Tahun 2014
Asumsi I :               1400 × 10        = 14000 ekor ( 7000 pasang )
                               14000 + 2800  = 16800 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi II :             16800 – 2800  = 14000 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi III :                                    = 14000 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi IV :            14000 + 50      = 14050 ekor ( 7025 pasang )
Tahun 2015
Asumsi I :               7025 × 10        = 70250 ekor ( 35125 pasang )
                               70250+14050  = 84300 ekor ( 42150 pasang )
Asumsi II :             16800 – 2800  = 70250  ekor (35150  pasang )
Asumsi III :                                    = 70250  ekor (35150 pasang )
Asumsi IV :            70250  + 50     = 70300 ekor ( 35150 pasang )
b.      Rantai Makanan dan Jaring-jaring Makanan
-          2http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcScon33TZ9NxACvL8neyqf0J7bdQIm-AFzuM0VokIKPS28yBwyPwwRantai makanan










1



http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSkIIiaO6J5nCgZUzOUTV-qUMXfV70mTE20123JiqxMj9Bhm_NFVQ,3




5


 
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT6vcBMm2C1TX3xMwvmWG-SoyyYJnxh8equNDEesMAynwogoTqr






4http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQj_wRL9oQvbAnm_kDbzmGUseZmoUpHUbZwuEJjYZtgUH2PIISojy8dmnwhttp://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRl0GXWCsGIN2dL2yOSKs8iDMcDcV2d6Yu9v7udbCmloId69QTQC9KUNVK0







Keterangan :
1.      Rumput
2.      Belalang
3.      Katak
4.      Ular
5.      Bakteri pengurai
-          Jaring-jaring Makanan


http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT6vcBMm2C1TX3xMwvmWG-SoyyYJnxh8equNDEesMAynwogoTqr,http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcScon33TZ9NxACvL8neyqf0J7bdQIm-AFzuM0VokIKPS28yBwyPww,http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSkIIiaO6J5nCgZUzOUTV-qUMXfV70mTE20123JiqxMj9Bhm_NFVQ,http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQZydVJ1iDYQmxzXKh7u04oAYApRX6xlbJsldmdVR0rIAAXA4zO,http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRl0GXWCsGIN2dL2yOSKs8iDMcDcV2d6Yu9v7udbCmloId69QTQC9KUNVK0,http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS-U36gcHBrdvtiAdqc_8SxOR1hEki_9Z4JuiHFIWaYz66ATo9Q,http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT48caph3DyjxaobB0h1cFLZkh3IVIE1X_o8vavtAv-jakKzFnOb4X233I,5,1,2,3,4,6,7
 









Keterangan :       
1.      Rumput
2.      Belalang
3.      Tikus
4.      Semut kecil
5.      Semut besar
6.      Katak
7.      Ular






IV.2. Grafik dan tabel
a.      Model Populasi
-          Model I




















-          Model II






















-          Model III






















-          Model IV






















b.      Tabel Pengamatan Organisme
-       Rantai Makanan
No.
Organisme
Peran
1.
2.
3.
4.
5.
Rumput
Belalang
Katak
Ular
Bakteri dekompuser
Produsen
Konsumen I
Konsumen II
Konsumen III
Pengurai
-          Jaring-jaring makanan
No.
Organisme
Peran
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Rumput
Belalang
Tikus
Semut kecil
Semut besar
Katak
Ular
Produsen
Konsumen I
Konsumen I
Konsumen I
Konsumen II
Konsumen II dan III
Konsumen III dan IV
IV. 3. Pembahasan
a.      Model populasi
-       Model I
Pada model I, pertumbuhan populasi hanya di pengaruhi oleh kelahiran dan kematian yang berlasung secara normal, setiap tetua akan mati sebelum musim bertelur berikutnya. Angka Kematian (mortalitas) Menyatakan  jumlah  individu-individu  dalam  populasi  yang mati  per  satuan  waktu. Dalam kondisi yang ideal maka angka kematian berada pada titik minimum. Mortalitas pasti terjadi  pada  makhluk  hidup  meskipun  kondisi  lingkungan  sangat  ideal,  kematian  terjadi karena umur tua. Hal ini tidak terlalu menghambat pertumbuhan populasi karena kelahiran lebih besar dibanding kematian.
-       Model II
Pada model II, setiap tahun dua perlima dari tetua masih dapat mempunyai keturunan lagi untuk kedua kalinya sebelum akhirnya mati, hal ini tentunya memiliki pengaruh kuat karena akan meningkatkan keturunan dan menurunkan kematian. Secara  ekologis  populasi  umumnya memiliki  tiga  bentuk  sebaran  umur  yaitu muda (prareproduktif), reproduktif dan umur tua (postreproduktif). Lamanya periode umur ekologis jika dibandingkan dengan panjangnya umur sangat beragam tergantung pada jenis organism dan kondisi  lingkungan yang melingkupinya. Beberapa  jenis  tumbuhan dan hewan memiliki umur  prareproduktif  yang  lebih  panjang  dan  beberapa  tidak memiliki  umur  postproduktif. Populasi  organisme  yang  sama  tetapi  hidup  dalam  kondisi  lingkungan  yang  berbeda  juga dapat memiliki periode umur ekologis yang berbeda. Populasi hewan  liar biasanya memiliki umur reproduktif lebih lama dibandingkan dengan yang dipelihara, contohnya beberapa jenis burung. Biasanya populasi yang  sedang berkembang  cepat  akan didominasi oleh    individu-individu muda, populasi yang stationer memiliki umur yang  lebih merata dan populasi yang menurun akan didominasi oleh sebagian besar individu-individu yang berumur tua. Sebaran  umur  dalam  populasi    akan  sangat mempengaruhi  natalitas  dan mortalitas yang pada akhirnya berpengaruh terhadap densitas populasi. 
-       Model III
Pada model III, asumsi III mengatakan bahwa setiap tahun dua perlima dari keturunan mati sebelum bertelur. Hal ini tentu akan menyebabkan meningkatnya kematian sehingga menekan angka kelahiran. Hal ini dapat menurunkan pertumbuhan populasi.
-       Model IV
Pada  model IV, terlihat jelas bahwa proses migrasi memilki pengaruh kuat bagi pertumbuhan populasi. Pada model ini, asumsi 4 mengatakan bahwa setiap tahun ada 50 burung geraja baru darang ke pulau dan tidak ada yang meninggalkan pulau. Hal ini tentu akan memingkatkan pertumbuhan populasi.
b.   Rantai Makanan dan Jaring-jaring Makanan
-       Rantai Makanan
Pada rantai makanan, proses makan dan dimakan hanya berlangsung dalam satu arah, sehingga tidak ada kompunen di dalamnya yang memiliki dua fungsi sekaligus, karena mereka telah menempati peran masing masing tanpa ada saling singgung. Sewaktu tumbuhan hijau dimakan herbivora, energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke dalam tubuh herbivora dan sebagian energi hilang berupa panas. Demikian juga sewaktu herbivora dimakan karnivora. Oleh karena itu, aliran energi pada rantai makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di dalam ekosistem hanya satu jalur, berupa aliran energy.
Semua rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik.
-       Jaring-jaring Makanan
Pada jaring-jaring makanan arah proses makan dimakan tidak hanya berlangsung dalam satu arah, melainkan beberapa arah. Karena aring-jaring makanan merupakan penggabungan dari beberapa rantai makanan. Hal ini menyebabkan adalah organism yang memiliki dua paranan dalam reaksi perputaran energy yang terjadi. Semua rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik. Setiap organisme, misalnya sapi atau belalang yang memakan tumbuhan disebut herbivora atau konsumen primer. Karnivora seperti halnya katak yang memakan herbivora disebut konsumen sekunder. Karnivora sebagaimana ular, yang memakan konsumen sekunder dinamakan konsumen tersier, dan seterusnya. Setiap tingkatan konsumen dalam suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik. Sedangkan jaring-jaring makanan dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Pada rantai makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk tingkat tropik yang sema- kin tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan. Salah satu jenis piramida ekologi adalah piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat pada konsumen tingkat terakhir.















BAB V
PENUTUP

V.1. Kesimpulan
Perdasarkan hasil praktikum yang diperoleh,  dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)               Dalam percobaan yang telah dilakukan, kita dapat menggunakan berbagai macam model untuk mengetahui bagaimana populasi dapat tumbuh. Yang berarti ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu populasi, yakni kelahiran, kematian dan migrasi.
2)               Suatu Komunitas terdiri dari beberapa macam jenis organisme yang saling berhubugan sehingga membentuk rantai makanan yakni peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah tertentu pada suatu ekosistem. Dan juga Jaring-jaring makanan yang dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Sehingga akan terbentuk piramida ekologi yang menunjukkan tingkatan konsumen di atasnya lebih kecil dibandingkan konsumen yang berada di bawahnya.
V.2. Saran
Dalam melakukan percobaan, diperlukan sifat waspada dan ketelitian yang tinggi sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan dan tidak terjadi kesalahan dalam proses percobaan.
Dalam penulisan laporan percobaan sebaiknya dilengkapi literature yang memadai, sehingga dapat meyakinkan para pembaca.
 DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1997. Biologi science 1.diunduh dari http:// Biological Science I .com. Diakses tanggal 24 Oktober 2012, pukul 19.33
Campbell, Neil. 2004. Biologi jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Karmana Oman. 2007. Cerdas Belajar Biologi Untuk Kelas X  SMA/MA program IPA. Bandung : Grafindo
Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Maizer.2007. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta : UI Press
Odum, EP. 1983. Fundamentals of Ecology third Edition. Georgia: Saunders
College Publishing
Pratiwi, D.A. 2000. Biologi Jilid 3 edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Prawirahartono, Slamet.1994.Sains Biologi.Jakarta: Bumi Aksara
Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia
Winatasasmita, Djamur.1993.Biologi I.Jakarta: Balai Pustaka
Zoer´aini D.I. 2003. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi. PT Bumi Aksara, Jakarta

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. terima kasih kak, laporannya sungguh membantu saya dan teman2 menyelesaikan tugas lab. biologi,,,,

    BalasHapus
  3. astaga alvian ambil reverensi dari sini yaaa

    BalasHapus