LAPORAN
PARAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
PERCOBAAN
V
POPULASI,
KOMUNITAS, DAN EKOSISTEM
NAMA : TRI ASTUTI
NIM : I11112048
FAK/GOL : PETERNAKAN/B
KOLOMPOK : I
ASISTEN : ST. RAHBIAH

LABORATORIUM
BIOLOGI DASAR
UNIT
PELAKSANA TEKNIS-MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1. Latar
Belakang
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang
banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti
:kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya (Winatasasmita,
1993).
Ilmu ekologi pada dasarnya menjelaskan
hubungan antara organisme -tumbuhan maupun hewan- dengan lingkungannya. Sifat
setiap benda hidup dimengerti dari segi hubungannya. Bukan hanya dengan alam
secara fisik -termasuk tanah, air dan iklim- tetapi juga dengan benda hidup
lain dalam suatu pola saling ketergantungan yang dinamakan ekosistem. Contoh
ekosistem dari Sumatera adalah hutan tropis dataran rendah, hutan mangrov,
sungai, lahan basah gambut, dll. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki
interaksi organisme dengan lingkungannya (Widjoyo, 1974).
Struktur
ekosistem terdiri dari beberapa
indikator yang menunjukan keadaan
dari system ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Beberapa penyusun
struktur ekosistem antara lain
adalah densitas (kerapatan), biomas, materi, energi, dan faktor-faktor fisik-kimia
lain yang mencirikan
keadaan system tersebut (Odum, 1983).
Fungsi ekosistem
menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam system. Berdasarkan struktur
dan fungsi ekosistem,
maka seseorang yang
belajar ekologi harus didukung
oleh pengetahuan yang
komprehensip berbagai ilmu
pengetahuan yang relevan dengan
kehidupan. Ekologi tidak hanya mempelajari ekosistem tetapi juga otomatis mempelajari
organisme pada tingkatan organisasi
yang lebih kecil seperti individu, populasi dan komunitas. (Karmana,
2007)
I.2. Tujuan
Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah :
1.
Dapat menggunakan model
untuk meneliti bagaimana populasi dapat tumbuh
2.
Mempelajari suatu
komunitas dan mengumpulkan data sebanyak mungkin selama waktu dan kesempatan
yang memungkinkan. Kemudian mampu memeriksa hubungan antara masing masing
spesies agar dapat mengira-ngira urutan yang paling penting dan untuk
mengetahui struktur komunitas itu.
I.3. Waktu dan
Tempat Percobaan
Pengamatan
ini dilakukan pada hari Selasa, Tanggal 16 Oktober 2012, Pukul 11.00-14.00 di
Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Individu berasal
dari bahasa latin yaitu in
(tidak) dan dividuus (dapat
dibagi) jadi individu merupakan bagian
organisasi kehidupan yang
tidak dapat dibagi
lagi. Masing-masing unit yang
disebut individu tersebut dapat melakukan proses hidup yang
masing-masing terpisah. Setiap individu seperti pohon pisang dalam rumpunnya
akan dapat hidup apabila dipisahkan dari
rumpunnya tersebut. Individu
dalam ekologi memiliki makna yang
sangat penting, karena
dari individu dapat
dikumpulkan bermacam-macam data
untuk mempelajari tentang
kehidupan dalam hubungannya
dengan lingkungannya (Zoer´aini, 2003)
Dalam ekologi, populasi diartikan
sekelompok idividu sejenis yang menempati ruang dan waktu
tertentu. Populasi adalah kelompok
kolektif organisme dari
jenis yang sama
yang menempati ruang
atau tempat tertentu dan memiliki
berbagai ciri atau sifat yang unik dari kelompok dan bukan merupakan sifat
milik individu di dalam kelompok tersebut. Populsi memiliki sejarah hidup,
tumbuh dan berkembang seperti apa
yang dimiliki oleh
individu. Populasi memiliki
organisasi dan struktur yang
pasti dan jelas (Zoer´aini, 2003).
Berdasarkan sifatnya
yang unik dan
berbeda dengan sifat masing-masing individu populasi memiliki ciri-ciri antara
lain sebagai berikut:
1.
Densitas atau kerapatan atau kepadatan
Densitas populasi
menunjukan besarnya populasi
dalam satuan ruang.
Umumnya dinyatakan sebagai jumlah individu atau biomas persatuan luas atau volume. Densitas dalam
studi atau kajian
ekologi memiliki fungsi yang
sangat besar, karena pengaruh populasi
terhadap komunitas dan
ekosistem tidak hanya jenis
organismenya saja tetapi
juga jumlahnya atau densitasnya (Zoer´aini, 2003).
2.
Angka kelahiran (natalitas)
Natalitas adalah
kemampuan inheren populasi
untuk bertambah. Di
alam angka kelahiran dapat
bervariasi sesuai dengan
keadaan lingkungan. Angka
kelahiran umumnya dinyatakan
dalam bentuk angka atau laju yang dihitung berdasarkan jumlah individu baru persatuan
waktu per satuan populasi (Zoer´aini,
2003).
3.
Angka kematian (mortalitas)
Menyatakan jumlah
individu-individu dalam populasi
yang mati per satuan
waktu. Dalam kondisi yang ideal maka angka kematian berada pada titik
minimum. Mortalitas pasti terjadi
pada makhluk hidup
meskipun kondisi lingkungan
sangat ideal, kematian
terjadi karena umur tua (Zoer´aini,
2003).
4.
Genetik
Sifat-sifat genetik secara langsung
berhubungan dengan keberadaan suatu populasi di dalam lingkungan. Termasuk
didalamnya antara lain adalah keserasian reproduksi, distribusi, adaptasi dan
ketahanan hidup. Faktor
genetik dalam mempelajari
ekologi memiliki peran penting karena adanya variasi
(biodiversitas) genetik akan sangat menentukan eksistensi suatu populasi dalam
lingkungan (Zoer´aini,
2003).
5.
Struktur Umur
Secara ekologis
populasi umumnya memiliki tiga
bentuk sebaran umur
yaitu muda (prareproduktif), reproduktif dan umur tua (postreproduktif).
Lamanya periode umur ekologis jika dibandingkan dengan panjangnya umur sangat
beragam tergantung pada jenis organism dan kondisi lingkungan yang melingkupinya. Beberapa jenis
tumbuhan da hewan memiliki umur
prareproduktif yang lebih
panjang dan beberapa
tidak memiliki umur postproduktif. Populasi organisme
yang sama tetapi
hidup dalam kondisi
lingkungan yang berbeda
juga dapat memiliki periode umur ekologis yang berbeda. Populasi
hewan liar biasanya memiliki umur
reproduktif lebih lama dibandingkan dengan yang dipelihara, contohnya beberapa
jenis burung. Biasanya populasi yang
sedang berkembang cepat akan didominasi oleh individu-individu muda, populasi yang
stationer memiliki umur yang lebih
merata dan populasi yang menurun akan didominasi oleh sebagian besar
individu-individu yang berumur tua (Zoer´aini,
2003).
6.
Potensi biotik
Potensi biotik
dapat diartikan sebagai
kemampuan bawaan yang
dimiliki organism untuk tumbuh
atau bereproduksi (reproductive
potential). Potensi biotic
menggambarkan kemampuan suatu populasi menambah jumlah anggautanya
apabila rasio umur sudah mantap dan
lingkungan dalam kondisi optimal. Pada kondisi lingkungan
tidak atau kurang optimum maka tingkat
pertumbuhan populasi menurun.
Perbedaan antara potensi
biotik dengan kemampuan suatu
poipulasi menambah anggautanya
dalam keadaan yang
dapat diamati dikenal sebagai
daya tahan lingkungan. (Zoer´aini,
2003).
7.
Bentuk pertumbuhan
Pertambahan ukuran
populasi memiliki pola
tertentu yang dikenal
sebagai bentuk pertumbuhan populasi
(population growth form). Secara
teoritik pertumbuhan populasi terjadi secara eksponensial. Dari bentuk
kurva, populasi tumbuh
tidak pernah terhenti
dan makin lama makin
cepat. Pertumbuhan
eksponensial dapat terjadi
hanya apabila faktor
lingkungan tak terbatas,
jadi tidak ada faktor apapun yang membatasi pertumbuhan (Zoer´aini, 2003).
Distribusi populasi
adalah pergerakan individu-individu atau
alat perkembang biakannya (biji,
spora, larva dan
lainnya) ke dalam
atau ke luar
dari suatu populasi
atau daerah populasi. Ada tiga bentuk distribusi atau pergerakan
populasi yaitu:
1.
Migrasi, yaitu pergerakan keluar batas-batas tempat populasi dan datang kembali ke tempat
populasi semula secara periodik
2.
Emigrasi, yaitu pergerakan
keluar batas-batas tempat
populasi sehingga populasi berkurang
3.
Imigrasi, yaitu pergerakan
ke dalam batas-batas
tempt populasi sehingga populasi bertambah (Prawirahartono,
1994)
Ekosistem yaitu antara komunitas dan
lingkungannya selalu terjadi interaksi.interaksi ini menciptakan kesatuan
ekologi yang disebut ekosistem. komponen penyusun ekosistem adalah produsen
(tumbuhan hijau), konsumen (herbivor, karnivor, omnivor) dan
dekomposer/penguurai (mikroorganisme) (Pratiwi, 2000).
Ekosistem terdapat interaksi antara
komponen abiotik dengan komponen biotik. Pada komponen biotik di bentuk oleh
berbagai organisme yang berbeda jenisnya. (Rochman, 2005).
Beberapa organisme yang jenisnya
sama akan membentuk populasi, beberapa populasi yang berbeda akan membentuk
komunitas. Satu ekosistem akan berbeda dengan ekosistem lainnya. Perbedaan ini
terjadi di dasarkan ciri-ciri komunitas yang menonjol (baik hewan maupun
tumbuhan) karena setiap organisme membentuk komunitas memiliki karakteristik
yang bermacam-macam, maka terbentuklah macam-macam ekosistem. Dalam ekosistem,
tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen dan
mikroorganisme berperan sebagai dekomposer (Maizer 2007).
Faktor biotik juga meliputi
tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas,
ekosistem, dan biosfer.tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut
dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan (Maizer 2007).
Faktor-faktor abiotik merupakan
bagian dari ekosistem selain komunitas spesies yang ada dalam suatu daerah
tertentu Pada tingkat ekosistem akan berhubungan dengan aliran energi dan
pendauran zat-zat kimia pada berbagai komponen biotik dan abiotik. Studi ekosistem
banyak melibatkan ilmu lainnya, seperti genetika, evolusi, fisiologi, dan
perilaku. Selain itu, kimia, fisika, geologi, meteorologi konservasi (Campbell,
2004).
Ekosistem adalah suatu komunitas
organisme yang berinteraksi sesamanya dan dengan alam tak hidup disekitarnya.
Ekosistem beragam dalam produktivitasnya, artinya dalam jumlah energi yang
disimpan dalam benda hidup heterotrof menjamin energi yang diperolehnya dari
autotrof. Energi dan bahan dari organisme lain memastikan suatu rantai makanan
dan setiap mata rantainya merupakan tingkatan trofik (Kimball 2005).
Pengelolaan lingkungan hidup
bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan
manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan
tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material
(bahan makanan) dan nonmaterial (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian
kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan,
hewan, dan unsur tak hidup (Kimball 2005).
Komponen yang
mempengaruhi Ekosistem terdiri atas faktor abiotik dan faktor biotikFaktor
biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup: tumbuhan, hewan,
manusia, mikroorganisme. Tumbuhan berperan sebagai produsen sedangakn hewan
berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer.
Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam. Ekosistem
Berdasarkan fungsinya di dalam, ekosistem makhluk hidup dibedakan menjadi tiga
golongan, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer atau pengurai (Maizer,
2007).
·
Produsen
Tumbuhan hijau
mampu memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan zat makanan melalui
proses fotosintesis, sehingga disebut sebagai produsen. Organisme yang dapat
membuat makanan sendiri disebut organisme autotrof. Gambaran reaksi kimia
proses fotosintesis. Zat makanan yang terbentuk merupakan energi kimiawi yang
tersimpan pada bagian daun, batang, akar atau buah. Hasil fotosintesis lainnya
adalah berupa oksigen dilepas ke udara bebas dan digunakan.
·
Konsumen
Manusia dan
hewan termasuk dalam golongan konsumen karena keduanya tidak dapat membuat
makanan sendiri. Konsumen disebut juga organisme heterotrof, artinya organisme
yang tergantung organisme lain untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan jenis
makanannya, organisme yang mendapatkan makanan dari tumbuhan saja disebut
herbivora, organisme yang hanya makan hewan disebut karnivora. Organisme yang
mendapatkan makanan dari tumbuhan maupun hewan disebut omnivora.
·
Dekomposer atau
Pengurai
Dekomposer
atau pengurai dalam menguraikan zat organik yang terdapat pada makhluk hidup
yang sudah mati menjadi zat yang lebih sederhana, seperti mineral atau zat
organik lain. Makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai adalah bakteri dan jamur
saprofit. Zat mineral atau zat hara hasil penguraian meresap ke dalam tanah
yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila
ada hubungan timbal balik yang harmonis antar komponen biotik dan abiotik (Maizer,
2007).
Setiap kegiatan
memerlukan energi. Sumber energi untuk organisme adalah energi kimia yang
terdapat di dalam makanan. Makhluk hidup tidak mampu menciptakan energi,
melainkan hanya memindahkan dan memanfaatkannya untuk beraktivitas. perpindahan
energi berlangsung dari matahari ke tumbuhan hijau melalui proses fotosintesis.
Di sini energi cahaya diubah menjadi energi kimia. Sewaktu tumbuhan hijau
dimakan herbivora, energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke
dalam tubuh herbivora dan sebagian energi hilang berupa panas. Demikian juga
sewaktu herbivora dimakan karnivora. Oleh karena itu, aliran energi pada rantai
makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di dalam ekosistem hanya
satu jalur, berupa aliran energi (Kimball, 2005).
Rantai makanan
adalah peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah tertentu pada
suatu ekosistem. terdiri atas rantai makanan perumput,rantai makanan detritus.
Rantai Makanan tidak hanya mencakup hewan-hewan seperti rusa, sapi tetapi juga
herbivora kecil misalnya serangga (Kimball, 2005).
Semua rantai
makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan
fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen karena hanya
mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik. Setiap organisme,
misalnya sapi atau belalang yang memakan tumbuhan disebut herbivora atau
konsumen primer. Karnivora seperti halnya katak yang memakan herbivora disebut
konsumen sekunder. Karnivora sebagaimana ular, yang memakan konsumen sekunder
dinamakan konsumen tersier, dan seterusnya. Setiap tingkatan konsumen dalam
suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik. Sedangkan jaring-jaring makanan
dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Pada rantai
makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen,
konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat
autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat
tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap
perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan
terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada
rantai makanan untuk tingkat tropik yang sema- kin tinggi, jumlahnya semakin
sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan. Salah satu jenis
piramida ekologi adalah piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu.
Piramida jumlah pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai
jumlah paling besar dan konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah
paling sedikit terdapat pada konsumen tingkat terakhir (Biological Science I,
1997).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1. Alat
Alat yang
digunakan pada percobaan ini adalah kalkulator.
III.2. Bahan
Bahan yang
digunakan dalam percobaan ini adalah kertas grafik biasa berukuran A3 sebanyak
dua lembar.
III.3. Cara
kerja
a.
Model
populasi
1.
Mempersiapkan model
Mengumpamakan
disuatu pulau tahun 2011 dihuni oleh 10 burung gereja (5 pasang jantan dan
betina).
Asumsi
I :
setiap musim bertelur, setiap pasang burung gereja menghasilkan 10 keturunan,
selalu 5 ekor jantan dan 5 ekor betina.
Asumsi
II : Setiap
tahun semua tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim bertelur
berikutnya.
Asumsi
III : Setiap
tahun semua keturunan hidup sampai pada musim bertelur berikutnya. (dalam
keadaan sebenarnya beberapa tetua akan hidup dan beberap keturunan akan mati.
Asumsi I dan III akan memberikan keseimbangan. Sehingga akan mengurangi
perbedaan antara model yang kita buat dengan keadaanyang sebenarnya)
Asumsi
IV :
selama pengamatan tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau
tersebut.
2. Pertumbuhan
populasi
Mengamati
bagaimana populasi hipotik ini tumbuh. Lalu menghitung besarnya populasi setiap
permulaan musim bertelur. Sesuai dengan asumsi I, pada tahu 2011 terdapat lima
pasang. Setiap pasang menghasilkan keturunan sebanyak 10. Jadi jumlah
seluruhnya 50 keturunan. Sesuai dengan asumsi II, ke-50 keturunan akan hidup
semuanya hingga musim bertelur tahun 2012.sesuan dengan asumsi I , terdiri dari
25 jantan dan 25 betina (25 pasang), dan setiap pasang menghasilkan 10
keturunan.
Menghitung
populasi burung gereja berdasarkan cara diatas pada tahun 2013, 2014 dan 2015.
Setelah memiliki sejumlah angka, membuat gambaran lebih jelas tentang jalannya
pertumbuhan dari suatu populasi dengan cara menempatkan angka-angka pada garis
grafik.
Membuat grafik
dimana tahun pada garis sumbu horizontal dan jumlah burung pada garis sumbu
vertical.
3.
Mengamati grafik
·
Mengamati naik turunnya
grafik jika dibaca dari kiri ke kanan ( dari tahun ke tahun melintasi gambar
grafik tersebut)
·
Mencari tau apa arti
naik turunnya grafik tersebut
·
Mengetahui bagaimana
gambar grafik apabila perhitungan populasi dilanjutkan hingga waktu yang tak
terhingga
·
Menggambarkan dengan
kata-kata populasi hipotik dalam batas batas asumsi yang telah dibuat
4.
Melanjutkan perhitungan
dengan asumsi yan berbeda
1) Mengubah
asumsi II sebagai berikut : setiap tahun dua perlima dari tetua (jantan dan
betina jumlahnya sama) masih dapat mempunyai keturunan lagi untuk kedua
kalinya, baru kemudian mati. Asimsi lain tidak diubah. Membandingkan hasil ini
dengan asumsi yang asli dengan menggambar grafik pada kertas grafik
2) Mengubah
asumsi III sebagi berikut : setiap tahun dua perlima dari keturunan (jantan dan
betina jumlahnya sama) mati sebelum musim bertelur. Asumsi yang lain tidak
diubah. Kemudian membandingkan dengan model asli.
3)
Mengubah asumsi IV
sebagai berikut : setiap ahun 50 burung gereja baru (jantan
dan betina jumlahnya sama) datang kepulau tersebut dari tempat lainnya. Tidak
seekor burung pun yang meninggalkan pulau tersebut. Asumsi yang lain tidak
diubah.
b.
Jaring-jaring
makanan dan rantai makanan.
1. Meneliti
organisme yang ada pada lingkungan sekitar
2. Membuat
pola peralihan energy berupa proses makan dimakan yang terjadi
3. Mencatat
rantai makanan dan jaring-jaring makanan yang
terjadi.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil
a.
Model
populasi
·
Model
I
Tahun 2011
Asumsi I : 5 × 10 =
50 ekor ( 25 pasang )
50
+ 10 = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II : 60 – 10 =
50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi III : = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi IV : = 50 ekor ( 25 pasang )
Tahun 2012
Asumsi I : 25 × 10 =
250 ekor ( 125 pasang )
250
+ 10 = 300 ekor ( 150 pasang )
Asumsi II : 300 – 50 =
250 ekor ( 125 pasang )
Asumsi III : = 250 ekor ( 125 pasang )
Asumsi IV : = 250 ekor ( 125 pasang )
Tahun 2013
Asumsi I : 125 × 10 =
1250 ekor ( 625 pasang )
1250
+ 250 = 1500 ekor ( 750 pasang )
Asumsi II : 1500 – 250 =
1250 ekor ( 625 pasang )
Asumsi III : = 1250 ekor ( 625 pasang )
Asumsi IV : = 1250 ekor ( 625 pasang )
Tahun 2014
Asumsi I : 625 × 10 =
6250 ekor ( 3125 pasang )
6250
+ 1250 = 7500 ekor ( 3750 pasang )
Asumsi II : 7500 – 1250 =
6250 ekor ( 3125 pasang )
Asumsi III : = 6250 ekor ( 3125 pasang )
Asumsi IV : = 6250 ekor ( 3125 pasang )
Tahun 2015
Asumsi I : 3125 × 10 =
31250 ekor ( 15625 pasang )
31250
+ 6250 = 37500 ekor ( 18750 pasang )
Asumsi II : 37500 – 6250 = 31250
ekor ( 15625 pasang )
Asumsi III : = 31250 ekor ( 15625 pasang )
Asumsi IV : = 31250 ekor ( 15625 pasang )
·
Model
II
Tahun 2011
Asumsi I : 5 × 10 =
50 ekor ( 25 pasang )
50
+ 10 = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II :
10 = 4 ekor ( 2 pasang )
60
– 6 =
54 ekor ( 27 pasang )
Asumsi III : = 54 ekor ( 27 pasang )
Asumsi IV : = 54 ekor ( 27 pasang )
Tahun 2012
Asumsi I : 27 × 10 =
270 ekor ( 135 pasang )
270
+ 50 = 320 ekor ( 160 pasang )
Asumsi II :
50 =
20 ekor ( 10 pasang )
320
– 30 =
290 ekor (145 pasang )
Asumsi III : = 290 ekor (145pasang )
Asumsi IV : = 290 ekor (145 pasang )
Tahun 2013
Asumsi I : 145 × 10 =
1450 ekor (7 25 pasang )
1450
+ 270 = 1720 ekor ( 860 pasang )
Asumsi II :
270 =
108 ekor ( 54 pasang )
1720 – 162 = 1558 ekor (779 pasang )
Asumsi III : = 1558 ekor (779 pasang )
Asumsi IV : = 1558 ekor (779 pasang )
Tahun 2014
Asumsi I : 779 × 10 =
7790 ekor ( 3895 pasang )
7790
+ 1450 = 9240 ekor ( 4674 pasang )
Asumsi II :
1450 = 580 ekor ( 290 pasang )
9240 – 870 = 8370 ekor (4185 pasang )
Asumsi III : = 8370 ekor (4185 pasang )
Asumsi IV : = 8370 ekor (4185 pasang )
Tahun 2015
Asumsi I : 4185 × 10 =
41850 ekor ( 20925 pasang )
1450
+ 270 = 49640 ekor ( 24820 pasang )
Asumsi II :
7790 = 3116 ekor ( 1558 pasang )
49640
– 4674 = 44966 ekor ( 22483 pasang )
Asumsi III : = 44966 ekor ( 22483 pasang )
Asumsi IV : = 44966 ekor ( 22483 pasang )
·
Model
III
Tahun 2011
Asumsi I : 5 × 10 =
50 ekor ( 25 pasang )
50
+ 10 = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi II : 60 – 10 =
50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi III :
. 50 = 20 ekor mati ( 25 pasang mati )
50
– 20 = 30 ekor (15 pasang)
Asumsi IV : = 30 ekor (15 pasang)
Tahun 2012
Asumsi I : 15 × 10 =
150 ekor ( 75 pasang )
150
+ 30 = 180 ekor ( 90 pasang )
Asumsi II : 180 – 30 =
150 ekor ( 75 pasang )
Asumsi III :
. 150 = 60 ekor mati ( 30 pasang mati )
150
– 60 = 90 ekor (45 pasang)
Asumsi IV : = 90 ekor (45 pasang)
Tahun 2013
Asumsi I : 45 × 10 =
450 ekor ( 225 pasang )
450
+ 90 = 540 ekor ( 270 pasang )
Asumsi II : 540 – 90 =
450 ekor ( 225 pasang )
Asumsi III :
. 450 = 180 ekor mati ( 90 pasang mati )
450
– 180 = 270 ekor (135 pasang)
Asumsi IV : = 270 ekor (135 pasang)
Tahun 2014
Asumsi I : 135 × 10 =
1350 ekor ( 675 pasang )
1350
+ 270 = 1620 ekor ( 810 pasang )
Asumsi II : 1620 – 270 =
1350 ekor ( 675 pasang )
Asumsi III :
. 1350 = 540 ekor mati ( 270 pasang mati )
1350
– 540 = 810 ekor (405 pasang)
Asumsi IV : = 810 ekor (405 pasang)
Tahun 2015
Asumsi I : 405 × 10 =
4050 ekor ( 2025 pasang )
4050
+ 810 = 4860 ekor ( 2430 pasang )
Asumsi II : 4860 – 810 = 4050
ekor ( 2025 pasang )
Asumsi III :
. 4050 = 1620 ekor mati ( 810 pasang mati )
4050
– 1620 = 2430 ekor (1215 pasang)
Asumsi IV : = 2430 ekor (1215 pasang)
·
Model
IV
Tahun
2011
Asumsi
I : 5 × 10 = 50 ekor ( 25 pasang )
50 + 10 = 60 ekor ( 30 pasang )
Asumsi
II : 60 – 10 = 50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi
III : =
50 ekor ( 25 pasang )
Asumsi
IV : 50 + 50 = 100 ekor ( 50 pasang )
Tahun
2012
Asumsi
I : 50 × 10 = 500 ekor ( 250 pasang )
500 + 100 = 600 ekor ( 300 pasang )
Asumsi
II : 600 – 100 = 500 ekor ( 250 pasang )
Asumsi
III : =
500 ekor ( 250 pasang )
Asumsi
IV : 500 + 50 = 550 ekor ( 275 pasang )
Tahun
2013
Asumsi
I : 275 × 10 = 2750 ekor ( 1375 pasang )
2750 + 550 = 3300 ekor ( 1650 pasang )
Asumsi
II : 3300 – 550 = 2750 ekor ( 1375 pasang )
Asumsi
III : =
2750 ekor ( 1375 pasang )
Asumsi
IV : 2750 + 50 = 2800 ekor ( 1400 pasang )
Tahun
2014
Asumsi
I : 1400 × 10 = 14000 ekor ( 7000 pasang )
14000 + 2800 = 16800 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi
II : 16800 – 2800 = 14000 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi
III : =
14000 ekor ( 8400 pasang )
Asumsi
IV : 14000 + 50 = 14050 ekor ( 7025 pasang )
Tahun
2015
Asumsi
I : 7025 × 10 = 70250 ekor ( 35125 pasang )
70250+14050 = 84300 ekor ( 42150 pasang )
Asumsi
II : 16800 – 2800 = 70250 ekor (35150 pasang )
Asumsi
III : =
70250 ekor (35150 pasang )
Asumsi
IV : 70250 + 50 =
70300 ekor ( 35150 pasang )
b.
Rantai
Makanan dan Jaring-jaring Makanan
-


Rantai
makanan

Rantai
makanan![]() |
|||||||



Keterangan :
1. Rumput
2. Belalang
3. Katak
4. Ular
5. Bakteri
pengurai
-
Jaring-jaring
Makanan
![]() |
Keterangan
:
1.
Rumput
2.
Belalang
3.
Tikus
4.
Semut kecil
5.
Semut besar
6.
Katak
7.
Ular
IV.2. Grafik dan
tabel
a.
Model
Populasi
-
Model
I
-
Model
II
-
Model
III
-
Model
IV
b.
Tabel
Pengamatan Organisme
- Rantai Makanan
No.
|
Organisme
|
Peran
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Rumput
Belalang
Katak
Ular
Bakteri dekompuser
|
Produsen
Konsumen I
Konsumen II
Konsumen III
Pengurai
|
-
Jaring-jaring
makanan
No.
|
Organisme
|
Peran
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
Rumput
Belalang
Tikus
Semut
kecil
Semut
besar
Katak
Ular
|
Produsen
Konsumen I
Konsumen I
Konsumen I
Konsumen II
Konsumen II dan III
Konsumen III dan IV
|
IV. 3.
Pembahasan
a.
Model
populasi
- Model I
Pada
model I, pertumbuhan populasi hanya di pengaruhi oleh kelahiran dan kematian
yang berlasung secara normal, setiap tetua akan mati sebelum musim bertelur
berikutnya. Angka Kematian (mortalitas) Menyatakan jumlah
individu-individu dalam populasi
yang mati per satuan
waktu. Dalam kondisi yang ideal maka angka kematian berada pada titik
minimum. Mortalitas pasti terjadi
pada makhluk hidup
meskipun kondisi lingkungan
sangat ideal, kematian
terjadi karena umur tua. Hal ini tidak terlalu menghambat pertumbuhan
populasi karena kelahiran lebih besar dibanding kematian.
- Model II
Pada
model II, setiap tahun dua perlima dari tetua masih dapat mempunyai keturunan
lagi untuk kedua kalinya sebelum akhirnya mati, hal ini tentunya memiliki
pengaruh kuat karena akan meningkatkan keturunan dan menurunkan kematian. Secara
ekologis populasi umumnya memiliki tiga
bentuk sebaran umur
yaitu muda (prareproduktif), reproduktif dan umur tua (postreproduktif).
Lamanya periode umur ekologis jika dibandingkan dengan panjangnya umur sangat
beragam tergantung pada jenis organism dan kondisi lingkungan yang melingkupinya. Beberapa jenis
tumbuhan dan hewan memiliki umur
prareproduktif yang lebih
panjang dan beberapa
tidak memiliki umur postproduktif. Populasi organisme
yang sama tetapi
hidup dalam kondisi
lingkungan yang berbeda
juga dapat memiliki periode umur ekologis yang berbeda. Populasi
hewan liar biasanya memiliki umur
reproduktif lebih lama dibandingkan dengan yang dipelihara, contohnya beberapa
jenis burung. Biasanya populasi yang sedang
berkembang cepat akan didominasi oleh individu-individu muda, populasi yang
stationer memiliki umur yang lebih
merata dan populasi yang menurun akan didominasi oleh sebagian besar
individu-individu yang berumur tua. Sebaran
umur dalam populasi
akan sangat mempengaruhi natalitas
dan mortalitas yang pada akhirnya berpengaruh terhadap densitas
populasi.
- Model III
Pada model III, asumsi III mengatakan
bahwa setiap tahun dua perlima dari keturunan mati sebelum bertelur. Hal ini
tentu akan menyebabkan meningkatnya kematian sehingga menekan angka kelahiran.
Hal ini dapat menurunkan pertumbuhan populasi.
- Model IV
Pada model
IV, terlihat jelas bahwa proses migrasi memilki pengaruh kuat bagi
pertumbuhan populasi. Pada model ini, asumsi 4 mengatakan bahwa setiap tahun
ada 50 burung geraja baru darang ke pulau dan tidak ada yang meninggalkan
pulau. Hal ini tentu akan memingkatkan pertumbuhan populasi.
b.
Rantai
Makanan dan Jaring-jaring Makanan
- Rantai Makanan
Pada
rantai makanan, proses makan dan dimakan hanya berlangsung dalam satu arah,
sehingga tidak ada kompunen di dalamnya yang memiliki dua fungsi sekaligus,
karena mereka telah menempati peran masing masing tanpa ada saling singgung. Sewaktu
tumbuhan hijau dimakan herbivora, energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan
berpindah ke dalam tubuh herbivora dan sebagian energi hilang berupa panas.
Demikian juga sewaktu herbivora dimakan karnivora. Oleh karena itu, aliran
energi pada rantai makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di
dalam ekosistem hanya satu jalur, berupa aliran energy.
Semua
rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang
melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen
karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik.
- Jaring-jaring Makanan
Pada
jaring-jaring makanan arah proses makan dimakan tidak hanya berlangsung dalam
satu arah, melainkan beberapa arah. Karena aring-jaring makanan merupakan
penggabungan dari beberapa rantai makanan. Hal ini menyebabkan adalah organism
yang memiliki dua paranan dalam reaksi perputaran energy yang terjadi. Semua
rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang
melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen
karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik.
Setiap organisme, misalnya sapi atau belalang yang memakan tumbuhan disebut
herbivora atau konsumen primer. Karnivora seperti halnya katak yang memakan
herbivora disebut konsumen sekunder. Karnivora sebagaimana ular, yang memakan
konsumen sekunder dinamakan konsumen tersier, dan seterusnya. Setiap tingkatan
konsumen dalam suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik. Sedangkan
jaring-jaring makanan dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling
berhubungan. Pada rantai makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang
terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya.
Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama,
herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik
ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke
tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas
sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk tingkat tropik yang sema- kin
tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida
makanan. Salah satu jenis piramida ekologi adalah piramida jumlah yang
dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada suatu ekosistem
menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan konsumen tingkat
II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat pada konsumen
tingkat terakhir.
BAB
V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
Perdasarkan
hasil praktikum yang diperoleh, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)
Dalam percobaan yang
telah dilakukan, kita dapat menggunakan berbagai macam model untuk mengetahui
bagaimana populasi dapat tumbuh. Yang berarti ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan suatu populasi, yakni kelahiran, kematian dan migrasi.
2)
Suatu Komunitas terdiri
dari beberapa macam jenis organisme yang saling berhubugan sehingga membentuk
rantai makanan yakni peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah
tertentu pada suatu ekosistem. Dan juga Jaring-jaring makanan yang dibentuk
oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Sehingga akan terbentuk piramida
ekologi yang menunjukkan tingkatan konsumen di atasnya lebih kecil dibandingkan
konsumen yang berada di bawahnya.
V.2. Saran
Dalam
melakukan percobaan, diperlukan sifat waspada dan ketelitian yang tinggi
sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan dan tidak terjadi kesalahan dalam
proses percobaan.
Dalam
penulisan laporan percobaan sebaiknya dilengkapi literature yang memadai,
sehingga dapat meyakinkan para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
1997. Biologi science 1.diunduh dari http:// Biological Science I .com. Diakses
tanggal 24 Oktober 2012, pukul 19.33
Campbell, Neil. 2004. Biologi jilid 3 Edisi Kelima.
Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Karmana Oman. 2007. Cerdas
Belajar Biologi Untuk Kelas X SMA/MA
program IPA. Bandung : Grafindo
Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima.
Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Maizer.2007. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang
dan Laboratorium. Jakarta : UI Press
Odum, EP. 1983. Fundamentals of Ecology third Edition.
Georgia: Saunders
College Publishing
College Publishing
Pratiwi, D.A. 2000. Biologi Jilid 3 edisi Kelima.
Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Prawirahartono, Slamet.1994.Sains Biologi.Jakarta: Bumi
Aksara
Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia
Winatasasmita, Djamur.1993.Biologi
I.Jakarta: Balai Pustaka
Zoer´aini D.I. 2003. Prinsip-prinsip
Ekologi dan Organisasi. PT Bumi Aksara, Jakarta

